Saturday, 20 June 2015

Menjadi Bahagia, Menjadi Sederhana


Pasti sering denger kan ya quotes “bahagia itu sederhana”? Mungkin maksudnya adalah menjadi bahagia itu ngga perlu ribet, ngga perlu kebanyakan term and condition, cukup yang sederhana yang simple. Dapet coklat dari pacar, bahagia. Parkir ngga mbayar, bahagia. Dapet pulsa nyasar, bahagia. Semudah itu untuk menjadi bahagia, bukan? Tapi saya rasa asbabun nuzul dari quotes tersebut memang dikarenakan kondisi dunia saat ini penuh dengan kerumitannya sendiri untuk menuju bahagia. Banyak orang yang terlalu memaksa dirinya memenuhi keinginannya untuk bahagia dan justru ndak bahagia. Malah susah, mengeluh, dan sebagainya. Banyak orang yang dipenuhi dengan deadline, dengan ke-riweuh-annya menjalani hidup, serba ribet, serba kesusu lan kemrungsung. Seperti tidak ada zen di dalam hidupnya, kata seorang Buddhist. Harus punya ini biar seneng, harus kesana biar seneng, harus sama dia biar seneng, kalo ngga gitu ngga bakal bahagia. Kalo ngga sama kamu, mending mati. Yaolo mba sebegitunya~

Kata “itu” sebagai penghubung antar frase menurut saya memiliki makna hasil yang setara. Bahagia itu sederhana, berarti bisa juga dimaknai sederhana itu bahagia. Saya sekarang sedang dalam proses belajar yang kedua, “sederhana itu bahagia”. Saya tergolong orang yang tidak mbakat ngrasani nek ngga ada yang ngompori atau paling engga nek raono kancane, jadi saya males sekali menengok ke lain arah untuk melihat orang yang sederhana itu bahagia (hidupnya). Walaupun sering terperangkap untuk menonton acara televisi yang menyajikan kehidupan orang kampung yang susah, atap rumahnya modifikasi antara genteng-seng-dan terpal, kasur tidur yang banyak tambalannya dan rutinitas kakek-kakek tua yang tiap pagi mencari kayu bakar tapi kehidupan mereka nampak bahagia, saya masih belum percaya seutuhnya, karena kita semua tahu kalo tv lebih banyak bohongnya dibanding abu nawas. 
Teringat kata ustad yang digosipin ibu ibu komplek se Indonesia beberapa tahun yang lalu dan mungkin sampai sekarang, Aa’ gym, dengan programnya: mulai dari yang terkecil, mulai dari sekarang, dan mulai dari diri sendiri, maka saya mencoba hidup yang sederhana. Entah sederhana itu definisi menurut kalian apa. Apakah harus yang pakai sandal jepit dan makan nasi rames tapi sayur sama nasi doang? Apakah orang yang hapenya smartfren android murah itu? Terserah kamulah. Tapi menurut saya sekarang, sederhana itu tidak macem-macem. Cukup. Dan ora pengenan (tidak kepengin ini dan itu). Itu aja. Merasa diri cukup itu emang susah, dan pasti ada sisi-sisi lain yang tidak mungkin tidak. Tapi menurut saya rasa cukup diri itu bisa diaplikasikan ke semua hal, bahkan masalah kerja dan sekolah.

“wah kalo gitu, ngga maju maju dong hidupnya. Ngga ada peningkatan”
Ngga juga. Mencegah lebih baik daripada mengobati, begitu juga dengan sederhana. Menjadi sederhana lebih baik daripada rakus diri. Saya sudah cukup banyak melihat temen-temen yang “dimakan kerjaan”, jadi hidupnya untuk kerja, bukan kerja untuk hidup. Dari melek sampe merem ngurusi kerjaan. Akhirnya stress. Ih mending engga. Untuk masalah kerja dan sekolah – saya anggep itu menjadi satu, karena saya masih muda dan perlu banyak cari ilmu, harus maksimal. Tapi harus tahu batasan diri. Tidak semua kerjaan harus dihandle sendiri, atau tidak semua tugas harus dikerjakan saat itu juga. Badannya cuman satu, kalo rusak ngga ada gantinya. Tetep kerja, tetep sekolah, tapi tetep menjaga diri. Ndak edan.

Sebagai anak muda, menjadi sederhana dalam keinginan adalah hal yang sulit, menantang tapi asik. Menjadi “ngerti butuh” dan “ora gumunan” itu susah. Karena susah, maka saya mulai belajar dari sekarang. “Ngerti butuh” berarti sudah mulai belajar mengenal apa yang harus dipenuhi kebutuhan pribadi dan sosialnya. Mulai belajar rencana ini dan itu. Dan berusaha menghilangkan yang tersier. Yang penting-penting aja. Saya selalu punya mind set kayak pendaki gunung, bawa yang penting-penting aja. Kalo ngga perlu perlu banget ya ngga usah punya. Contoh, saya perlu ngetak-ngetik, browsing internet, dan sedikit aplikasi edit gambar, maka saya harus punya laptop. Apakah yang perlu spec tinggi, retina display, processor teranyar dan RAM maksimal? Perlu punya mekbuk pro 21 inci? Tidak. Contoh lagi, saya perlu ponsel untuk push email, foto sederhana, chat apps, buka office, dan aplikasi multimedia yang biasa, maka saya perlu ponsel pintar yang cukupan. Dan saya tidak suka ngegame di ponsel, pegel di mata. Apakah saya perlu beli hape seharga enam juta dan punya aplikasi segudang? Tidak. Begitulah.

“Ora gumunan” lebih susah lagi, jaman dimana privasi hampir tidak ada, kita bisa tahu mas itu punya apa dan mbak itu habis piknik kemana dalam sekejap, rasa iri dan pengin-sama-kayak-temennya semakin meningkat. Tidak sedikit mba-mba yang memaksakan memakai hotpants demi ikutan tren. Tidak sedikit juga teman yang punya sepatu harga sejuta lebih cuman buat ngampus dan nongkrong. Ikutan pasang behel biar kalo makan ngabisin waktu dua jam. Ya.. ya.. begitulah.. ikutan orang lain agar nampak bahagia. Padahal ngga butuh.
Menjadi sederhana itu bahagia. Bahagia itu nikmat. Perasaan bahagia karena bisa mengerjakan tugas dengan peralatan minim yang saya miliki. “Ngga kalah juga hasil kerjaan saya sama temen yang leptopnya seharga (motor) tossa”. Perasaan bahagia karena punya sepatu yang udah tiga tahun lebih tapi ngga jebol jebol. Perasaan bahagia karena lihat temen cewek yang mukanya kayak badut karena alisnya disetting entah gimana. Perasaan bahagia karena “ternyata duit segini cukup cukup aja buat idup sebulan.”


Menjadi sederhana itu bahagia.