Thursday, 3 September 2015

My Last Post, My Last Mail

Dear Sweetheart...
I've been sitting here thinking about all the
things I wanted to apologize to you for.

All the pain we caused each other.

Everything I put on you.

Everything I needed you to
be or needed you to say.

I'm sorry for that.

I'll always love you, because we grew up together.
And you helped make me who I am.

I just wanted you to know...
that there will be a piece of you in me, always.

And I'm grateful for that.

Whatever someone you become,
wherever you are in the world...

I'm sending you love.

You're my friend to the end.

Love, Ahong.

Saturday, 20 June 2015

Menjadi Bahagia, Menjadi Sederhana


Pasti sering denger kan ya quotes “bahagia itu sederhana”? Mungkin maksudnya adalah menjadi bahagia itu ngga perlu ribet, ngga perlu kebanyakan term and condition, cukup yang sederhana yang simple. Dapet coklat dari pacar, bahagia. Parkir ngga mbayar, bahagia. Dapet pulsa nyasar, bahagia. Semudah itu untuk menjadi bahagia, bukan? Tapi saya rasa asbabun nuzul dari quotes tersebut memang dikarenakan kondisi dunia saat ini penuh dengan kerumitannya sendiri untuk menuju bahagia. Banyak orang yang terlalu memaksa dirinya memenuhi keinginannya untuk bahagia dan justru ndak bahagia. Malah susah, mengeluh, dan sebagainya. Banyak orang yang dipenuhi dengan deadline, dengan ke-riweuh-annya menjalani hidup, serba ribet, serba kesusu lan kemrungsung. Seperti tidak ada zen di dalam hidupnya, kata seorang Buddhist. Harus punya ini biar seneng, harus kesana biar seneng, harus sama dia biar seneng, kalo ngga gitu ngga bakal bahagia. Kalo ngga sama kamu, mending mati. Yaolo mba sebegitunya~

Kata “itu” sebagai penghubung antar frase menurut saya memiliki makna hasil yang setara. Bahagia itu sederhana, berarti bisa juga dimaknai sederhana itu bahagia. Saya sekarang sedang dalam proses belajar yang kedua, “sederhana itu bahagia”. Saya tergolong orang yang tidak mbakat ngrasani nek ngga ada yang ngompori atau paling engga nek raono kancane, jadi saya males sekali menengok ke lain arah untuk melihat orang yang sederhana itu bahagia (hidupnya). Walaupun sering terperangkap untuk menonton acara televisi yang menyajikan kehidupan orang kampung yang susah, atap rumahnya modifikasi antara genteng-seng-dan terpal, kasur tidur yang banyak tambalannya dan rutinitas kakek-kakek tua yang tiap pagi mencari kayu bakar tapi kehidupan mereka nampak bahagia, saya masih belum percaya seutuhnya, karena kita semua tahu kalo tv lebih banyak bohongnya dibanding abu nawas. 
Teringat kata ustad yang digosipin ibu ibu komplek se Indonesia beberapa tahun yang lalu dan mungkin sampai sekarang, Aa’ gym, dengan programnya: mulai dari yang terkecil, mulai dari sekarang, dan mulai dari diri sendiri, maka saya mencoba hidup yang sederhana. Entah sederhana itu definisi menurut kalian apa. Apakah harus yang pakai sandal jepit dan makan nasi rames tapi sayur sama nasi doang? Apakah orang yang hapenya smartfren android murah itu? Terserah kamulah. Tapi menurut saya sekarang, sederhana itu tidak macem-macem. Cukup. Dan ora pengenan (tidak kepengin ini dan itu). Itu aja. Merasa diri cukup itu emang susah, dan pasti ada sisi-sisi lain yang tidak mungkin tidak. Tapi menurut saya rasa cukup diri itu bisa diaplikasikan ke semua hal, bahkan masalah kerja dan sekolah.

“wah kalo gitu, ngga maju maju dong hidupnya. Ngga ada peningkatan”
Ngga juga. Mencegah lebih baik daripada mengobati, begitu juga dengan sederhana. Menjadi sederhana lebih baik daripada rakus diri. Saya sudah cukup banyak melihat temen-temen yang “dimakan kerjaan”, jadi hidupnya untuk kerja, bukan kerja untuk hidup. Dari melek sampe merem ngurusi kerjaan. Akhirnya stress. Ih mending engga. Untuk masalah kerja dan sekolah – saya anggep itu menjadi satu, karena saya masih muda dan perlu banyak cari ilmu, harus maksimal. Tapi harus tahu batasan diri. Tidak semua kerjaan harus dihandle sendiri, atau tidak semua tugas harus dikerjakan saat itu juga. Badannya cuman satu, kalo rusak ngga ada gantinya. Tetep kerja, tetep sekolah, tapi tetep menjaga diri. Ndak edan.

Sebagai anak muda, menjadi sederhana dalam keinginan adalah hal yang sulit, menantang tapi asik. Menjadi “ngerti butuh” dan “ora gumunan” itu susah. Karena susah, maka saya mulai belajar dari sekarang. “Ngerti butuh” berarti sudah mulai belajar mengenal apa yang harus dipenuhi kebutuhan pribadi dan sosialnya. Mulai belajar rencana ini dan itu. Dan berusaha menghilangkan yang tersier. Yang penting-penting aja. Saya selalu punya mind set kayak pendaki gunung, bawa yang penting-penting aja. Kalo ngga perlu perlu banget ya ngga usah punya. Contoh, saya perlu ngetak-ngetik, browsing internet, dan sedikit aplikasi edit gambar, maka saya harus punya laptop. Apakah yang perlu spec tinggi, retina display, processor teranyar dan RAM maksimal? Perlu punya mekbuk pro 21 inci? Tidak. Contoh lagi, saya perlu ponsel untuk push email, foto sederhana, chat apps, buka office, dan aplikasi multimedia yang biasa, maka saya perlu ponsel pintar yang cukupan. Dan saya tidak suka ngegame di ponsel, pegel di mata. Apakah saya perlu beli hape seharga enam juta dan punya aplikasi segudang? Tidak. Begitulah.

“Ora gumunan” lebih susah lagi, jaman dimana privasi hampir tidak ada, kita bisa tahu mas itu punya apa dan mbak itu habis piknik kemana dalam sekejap, rasa iri dan pengin-sama-kayak-temennya semakin meningkat. Tidak sedikit mba-mba yang memaksakan memakai hotpants demi ikutan tren. Tidak sedikit juga teman yang punya sepatu harga sejuta lebih cuman buat ngampus dan nongkrong. Ikutan pasang behel biar kalo makan ngabisin waktu dua jam. Ya.. ya.. begitulah.. ikutan orang lain agar nampak bahagia. Padahal ngga butuh.
Menjadi sederhana itu bahagia. Bahagia itu nikmat. Perasaan bahagia karena bisa mengerjakan tugas dengan peralatan minim yang saya miliki. “Ngga kalah juga hasil kerjaan saya sama temen yang leptopnya seharga (motor) tossa”. Perasaan bahagia karena punya sepatu yang udah tiga tahun lebih tapi ngga jebol jebol. Perasaan bahagia karena lihat temen cewek yang mukanya kayak badut karena alisnya disetting entah gimana. Perasaan bahagia karena “ternyata duit segini cukup cukup aja buat idup sebulan.”


Menjadi sederhana itu bahagia.

Wednesday, 15 April 2015

Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana..



Kau ini bagaimana?
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya..
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir

Aku harus bagaimana?
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku memegang prinsip
Aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin plan

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain

Kau ini bagaimana?
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara tiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana?
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap wallahu a’lam bissawab

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana?
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana?
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatif, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana?
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tidak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana?
Atau aku harus bagaimana?


(Gus Mus - 1987)

Monday, 13 April 2015

marah bikin goblok

pernah ngga sih kalian lagi dijalan gitu, terus ada tabrakan, mobil nyenggol motor gitu semisal, terus biar ngga keliatan salah, eh yang bawa mobil turun terus marah-marah sekenanya? jadi itu kayak semacam tips ya buat kalian, jadi walopun kalian sebenernya salah.. marahlah duluan, karena itu bikin kalian keliatan ngga salah, nah mungkin kayak tabrakan ini nih contohnya.
bapak-bapak yang bawa mobil nabrak mas-mas yang naik motor. tuh bapak langsung turun mobil, terus pasang muka emosi level Dark Lord.
"heh mas! kalo naik motor liat jalan dong!!"
"loh pak? kok malah bapak yang marah?", masnya yang naik motor sambil periksa motornya ada yang rusak apa engga, stop ngecek motor sambil kebingungan.
"loh ya jelas saya marah! ini mobil saya jadi lecet!"
"ini kan bapak yang nabrak saya, harusnya saya yang marah dan minta ganti rugi dong!" masnya malah tambah bingung sama bapaknya.
"ganti rugi apaan?! makanya kalo mau belok itu nyalain lampu sen! bodo banget sih!"
"lah pak.. saya kan lurus-lurus aja emang ngga pengen belok...." masnya mencoba memahami kebodohan si bapak.
"ya makanya belok dong! jangan lurus!" si bapak langsung cuek masuk mobil dan ngebut pergi.
"....." si mas bengong kebingungan ngeliat ada orang kayak gitu. coba bayangin ekspresi masnya deh, mikir mikir bingung gitu, mikir ini yang nabrak siapa.. yang marah siapa.. yang goblok siapa...

ya ngga sih, kalian sering liat gitu ngga sih di jalan. ya banyak kejadian juga sih yang ngga di jalan kayak gitu. marah duluan aja, biar ngga keliatan salah. 
saya sih nganggep orang yang marah sampe emosi menggebu-nggebu itu orang yang bodo. goblok. ya. marah itu bikin kita keliatan gobloknya, soalnya yang kita lakuin itu komposisi napsu ama logikanya udah kebanyakan napsunya, atau malah napsu semua kali, ngga pake logika. walaupun diposisi sebagai korban, marah itu ngga solusi men, asli ngga solusi. yang ada orang jadi ngga simpati sama kamu malah. santai aja kalik bro. marah itu cuman bikin kalian beberapa saat dapet perhatian, tapi abis itu.. orang bisa ngga respect sama kalian. walaupun kalian bener sekalipun, marahin orang lain itu bikin porsi kebenaran kalian itu berkurang, setau saya orang kalo dimarahin sih berusaha diem aja, nunduk ke bawah, minta maaf, gitu ngga sih kalo pas masih sd gitu dimarahin guru, tapi abis itu yang ada kita tambah ngga suka sama tuh guru, ngomongin dibelakangnya, atau malah dendam sama si guru. beda banget sama guru yang tau kesalahan kita terus kita dipanggil ke ruangannya dan diajak ngobrol baik baik, kita pasti ya sebel tapi kita ngakuin salah kita dan nerima hukuman karena kita ngrasa emang, keknya saya emang pantes dapet hukuman. beda kan?

trus kalo lagi emosi banget gimana? marah kan seringnya mendadak? iya tau, marah itu ngga bisa direncanain, bukan termasuk program keluarga berencana juga. ya kalo saya sih mending diem atau pergi kalo lagi emosi, kalo emosinya udah ilang baru tuh ngomong sama orang yang bikin emosi. lebih efektif. kenapa? karena pertama kita ngga buang-buang energi, yang kedua yang kita kasih tau pasti lebih nangkep apa maksud kita.

so people, buat yang masih suka marah-marah, ngotot, nyolot, tukang nglabrak, suka ngebentak orang di depan orang banyak sampe bikin minder, kalo mau ngga keliatan goblok, stoplah marah. santai. bicaralah dengan santun dan nada yang enak. se-emosi apapun kalian. orang lain pasti lebih ngehargain dirimu.

Saturday, 21 March 2015